Monday, March 31, 2008

Film Language
Sebelum melangkah jauh ke bagaimana proses membuat film ada baiknya kita kuatkan dulu fondasi kita tentang pengertian dasar dari sebuah film yaitu bahasa film.
Seperti hal yang lain, bahasa adalah pintu dan jendela untuk mempelajari dan memahami sebuah ilmu , budaya atau apapun namanya.

Bahasa film adalah “bahasa kesepakatan” .
Sepakat terhadap meaning dari idiom visual, unsure visual dan symbol visual dan bersifat “tidak berdiri sendiri”.
Makna sebuah adegan seperti mewakili suatu pengertian dari sebuah kalimat bahasa verbal.
Makna sebuah shot “bisa” berarti sebuah arti (meaning) atau sebuah pengertian “kata” dalam kalimat verbal.
Sebagai teory, bahasa film berkembang seiring dengan perkembangan teknologi perekaman (suara dan gambar).
Contoh:
Sebelum diketemukannya unsure suara dalam film, orang terbiasa menikmati bahasa gambar. Unsur musik yang dimainkan life di depan layar hanya sebagai pembangun suasana (pada perkembangannya unsure musik dipergunakan membangun dimensi ketiga, yaitu dimensi membangun kedalaman suasana).
Ketika unsure suara (dialog) diterapkan dalam film mulailah era “bahasa verbal” untuk membangun meaning (pengertian) sebuah adegan. Namun kekuatan film dalam menerapkan bahasa visual tetap sebagai standar baku.
Lensa pada mulanya hanya lensa standar. Kamera static dan menangkap “moment” secara apa adanya.
Penemuan type of shot sebagai sebuah usaha coba-coba “dimaknai” sebagai unsure (untuk) berkomunikasi membangun “pengertian”. Close up seperti ajakan “lihatlah lebih seksama” yang mengajak penonton lebih “memahami” makna adegan.
Filosofi dari berbagai type of shot dan camera movement dipergunakan sebagai “sarana berkomunikasi” (seperti halnya bahasa) untuk membangun sebuah pengertian.
Begitu juga penemuan yang lain seperti angle (low angle, eye level, high angle) kerja lensa (zoom, change focus), camera working (track, tilt, swing, pan) ditambah perkembangan editing yang tidak sekedar cut & splicing, dengan dketemukannya transisi optical (dissolve, fade in/out, dll) sebagai unsure “perangkai”, membangun ritme dan pacing semakin menambah “kesepakatan” atau semacam vocabulary dalam bahasa verbal untuk memperkaya Bahasa film.(bersambung . ....)

Diambil dari berbagai sumber
thank's to pakde Aman

Saturday, March 15, 2008

Mari membuat film


Mari membuat film

blog ini dibuat oleh orang yang Jadul banget tapi ditujukan buat adik adik(kayak pak tino sidin aja) (siapa pak tino sidin ituuu..) sma/smu/smk atawa yang udah lulus dan yan penting punya keinginan bikin film ,klip atau dsbnya...
ayo kita sharing kita diskusi disini
Daaaaghhhhhh........................salam asoy!!!!